LECTIO
Tidak ada sarana yang lebih baik untuk hidup dalam persatuan dengan Allah daripada kesunyian. Di setiap biara, juga meskipun terletak di kota atau di suatu desa yang ramai, harus ada kesunyian, di mana orang menarik diri dari keributan dan keramaian dunia, kepada panggilannya, seorang Novis harus mencintai kesunyian, di mana orang menarik diri dari keributan dan keramaian dunia untuk dapat bergaul dengan Allah tanpa gangguan. Supaya dapat setia kepada panggilannya, seorang Novis harus mencintai kesunyian. Ia harus berusaha dengan cermat untuk suatu kehidupan bertarak. Karena suatu kehidupan membiara tak mungkin tanpa pertarakan. Setiap biarawati harus memupuk dalam dirinya cinta akan Klausura. Hanya ketaatan harus membuka bagi klausura itu. Siapa mencintai Klausura, juga akan bertingkah laku seperti layaknya seorang Suster biara yang baik di luar klausura. Novis harus mencintai keheningan dan pertarakan; dia harus paling kerasan dalam kesunyian Novisiat. Novisiat adalah Nazaret baginya. Siapa merasa jemu, siapa merindukan suatu aksi, suatu kesibukan yang mengalihkan perhatian, tidak mengerti arti masa Novisiat. Semoga semua dapat mengerti ucapan indah St. Bernardus, "O kesunyian yang menyelamatkan! O, keselamatan satu-satunya! Udara yang mereka hirup lebih murni: di sana surga menunjukkan secara luar biasa kerahiman, dan pergaulan dengan Allah menjadi lebih akrab."
Biara adalah sepotong Firdaus di lembah air mata ini, di mana orang hidup sebagai orang buangan; Novisiat adalah tempat terindah di Firdaus ini. Hari-hari membahagiakan di Novisiat! Tempat damai, terang, dan kehidupan yang benar! Novis sama seperti pohon yang diucapkan oleh Pemazmur, bahwa ia ditanam di dekat air, bahwa daunnya selalu hijau, dan bahwa pada suatu kali akan berbuah secara melimpah. Novis adalah Benyamin dalam keluarga biara; mereka merupakan titik pusat semua pemeliharaan dan perhatian; baginya didoakan dan dibuat kurban secara khusus; dia dilingkungi dengan nasihat-nasihat setia dan teladan-teladan baik; semua mencintainya: karena ia merupakan harapan Kongregasi. O saat yang membahagiakan, di mana mereka diberi pengajaran secara baik mengenai keutamaan-keutamaan, mengenai kewajiban-kewajiban! Waktu ini harus disebut waktu yang membahagiakan, karena orang tidak menutup-nutupi kesalahan dan kekurangan kita. Waktu yang membahagiakan, di mana roh lebih mudah tunduk; lebih sempurna taat; hati lebih terbuka untuk lebih mengikuti bimbingan dan karya rahmat. O tahun-tahun yang suci dan membahagiakan, yang berkatnya menjadi petaruh kesucian kita dalam hidup ini; dan menjadi kemuliaan kita di hidup yang lain. Jadi berbahagia, seribu kali bahagia Novis yang mengerti akan posisi pilihannya!
"Dunia bagiku disalibkan (mati), dan aku pun disalibkan (mati) bagi dunia."
Kebahagiaan ini dan keselamatan ini bersifat rohani, maka tidak mengecualikan salib, kekurangan, kurban, tetapi sebaliknya mengandaikan segalanya. Seperti sudah kita katakan, salib, kekurangan, kurban, merupakan bagian yang hakiki dari kehidupan membiara, dan sebagai akibatnya keadaan jiwa yang terbiasa, yang telah diserahkan kepada Allah untuk selama-lamanya. Novisiat dipandang sebagai persiapan langsung untuk kehidupan kurban. Setiap hari Novis harus melatih diri membuat kurban, dan terutama seperti berikut:
1. Perpisahan dengan dunia. Ia harus rela meninggalkan segalanya. Keterlibatannya kepada dunia harus diserahkan sama sekali kepada pendapat pemimpin.
2. Perpisahan dengan orang tua dan keluarga lain. Di sini juga ketaatan yang harus membimbingnya.
Perpisahan dengan dunia. "Dunia bagiku disalibkan (mati), dan aku pun disalibkan (mati) bagi dunia." Ucapan St. Paulus ini berlaku untuk setiap orang Kristen, tetapi seharusnya menjadi semboyan setiap biarawan. St. Krisostomus menghubungkan kata-kata St. Paulus ini dengan renungan berikut yang mendalam, "St. Paulus tidak puas dengan hanya mengatakan, bahwa dunia mati baginya, ia menambahkan bahwa dunia sendiri mati bagi dunia. Rasul itu memperhitungkan bahwa orang-orang hidup tidak hanya mempunyai relasi secara akrab satu sama lain, tetapi juga terhadap orang-orang mati. Untuk mengungkapkan sejelas mungkin pentingnya pelepasan diri total pada yang duniawi, Paulus berkata, bahwa kita harus memutus hubungan dengan dunia, dan dunia dengan kita. Seperti halnya orang mati berhadapan dengan orang mati, demikian juga orang Kristiani terhadap dunia, menurut Rasul."
Kita harus selalu waspada bahwa kita sudah putus dengan dunia untuk selama-lamanya. Dunia bukan urusan kita lagi. Seperti juga dunia tidak mengindahkan kita lagi dan kita harus sanggup hidup tanpa dunia. Dunia memiliki asas-asasnya; kita pun juga, asas yang akan kita ikuti dengan setia. Dasar hukum hidup kita adalah Injil; karya keselamatan membentuk tali-arah bagi tingkah laku kita. Tidak hanya dengan tubuh, tetapi juga dengan roh, kita harus meninggalkan segalanya. Maka dari itu kita harus mengikuti nasihat Kristus, "Biarlah orang mati mengubur orang mati."
Orang tua, sanak saudara, dan kawan-kawan harus kerap kita doakan dengan sungguh di hadapan Allah, tetapi kita harus melepaskan diri dari kelekatan tidak sehat. Kita harus mencintai mereka dalam Tuhan dan demi Tuhan. Hanya dengan demikian, apabila kita dapat melepaskan diri dari kelekatan tak teratur itu, kita termasuk mereka yang telah meninggalkan segalanya dengan semangat penuh korban. Dengan demikian kita dapat memperoleh damai jiwa yang benar dan seratus lipat yang dijanjikan.
Untuk memutus hubungan sama sekali dengan dunia, dan mengucilkan segala kecenderungan tak teratur dari hati kita, Novis-Novis harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Mereka harus mengesampingkan apa yang telah mereka alami di dunia, tidak menyibukkan diri dengan apa yang saat ini terjadi di dunia. Novis-Novis harus sama sekali masuk dalam hidupnya yang baru; tugasnya yang baru dan keadaan hidupnya yang baru harus demikian menyita perhatiannya, sehingga mereka tidak mempunyai waktu, untuk memikirkan hidupnya yang dahulu. "Lupakanlah bangsamu dan rumah bapamu," kata Pemazmur. Jadi, apa yang ada di belakang kita, harus kita lupakan, untuk dapat masuk sama sekali dalam segalanya, yang mempunyai hubungan dengan hidup baru. Masa kanak-kanak yang menyenangkan, tahun-tahun masa remaja dan menjadi putri rumah yang sedang mekar dengan segala tugas yang mengikatnya, persahabatan, dan kesenangannya, semuanya itu harus jauh ada di belakangnya, sehingga tidak akan dipikirkan lagi. Hal-hal ini, yang termasuk kehidupan lama dan tidak ada hubungannya dengan yang baru, lebih baik dikesampingkan secara radikal. Memang tidak dikecualikan bahwa kelak ia harus berhubungan dengan orang-orang itu lagi; mungkin juga bahwa kelak, ia harus berada dan bergerak lagi di dunia itu, dan bahwa syn lingkungan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya oleh ketaatan membuatnya kontak lagi di dunia. Semuanya ini tidak akan merusak hidup rohaninya, apabila dalam tahun-tahun Novisiat ia bertahan dalam perpisahan dengan dunia dan hal-hal dunia, dengan cara yang tegas.
2. Menulis surat. Sangatlah sulit untuk membuat peraturan dan yang pasti mengenai hal ini. Banyak sekali tergantung pada keadaan-keadaan khusus. Bahwa di Novisiat tidak banyak sekesempatan untuk menulis surat, setiap orang dapat dengan mudah mengerti. Dalam hal ini, Novis paling baik berbuat menurut bimbingan ketaatan. Sesudah menerangkan hal- hal tertentu kepada pemimpin, Novis harus tunduk kepada keputusannya. Bila ia berbuat demikian menurut roh iman dan semangat jujur dan bersikap anak, keputusan pemimpin, bagaimana jadinya, tetap menguntungkan bagi perkembangan rohaninya. Surat-surat Novis tidak boleh terlalu panjang. Meskipun berisi sesuatu yang dapat dicontoh, namun hendaknya dihindari nada khotbah. Seperti halnya dia sendiri selalu gembira dan riang demikian juga surat- suratnya selalu mencetuskan kegembiraan yang bersahaja dan senang.
3. Menerima tamu. Bagi seorang Novis, kamar tamu adalah Jugh tempat yang sedapat mungkin dihindari. Tentang menerima tamu, Novis harus tunduk pada ketentuan-ketentuan uspemimpin. Mungkin kadang agak menyakitkan, tetapi ggagasan akan Yesus akan menguatkannya. Apabila kita gandipanggil ke kamar tamu, janganlah lupa untuk mengunjungi Guru Ilahi lebih dahulu, kita mohon berkat-Nya dan supaya kita dengan rahmat-Nya dan cinta kasih-Nya. Di kamar tamu hendaknya diperhatikan bahwa ia milik Yesus; bahwa ia harus mempertahankan kepentingan Yesus. Tingkah lakunya ramah dan sopan, tetapi tidak boleh lupa bahwa ia abdi dan bukan mempelai Yesus.