LECTIO

Rumusan Spiritualitas Darah Mulia menyatakan bahwa penebusan ini berlangsung "sepanjang masa, melalui Gereja yang diutus ke dunia sebagai sakramen keselamatan dalam kuasa Roh Kudus serta dalam perlindungan dan penyertaan Bunda Maria". Dengan pernyataan ini, mau ditekankan bahwa daya penebusan itu menyentuh manusia individual dan juga komuniter, yaitu manusia dalam persekutuan satu sama lain. Manusia telah dipulihkan dalam hubungannya dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan satu sama lain dan dalam kebersamaan. Gereja dipahami sebagai sakramen keselamatan dan kesatuan dalam kuasa Roh Kudus. Lumen Gentium menegaskan bahwa Gereja adalah sakramen keselamatan universal, karena Kristus membimbing umat manusia untuk terhubung dengan Gereja lewat pelbagai macam cara sehingga umat manusia juga terhubung dengan Kristus secara lebih dekat. Lumen Gentium menyatakan bahwa tugas Gereja adalah mewartakan keselamatan pada segala makhluk (LG art. 1). Gereja lahir karena perutusan Roh Kudus oleh Kristus yang bangkit (Kis 2:1-31). Roh Kudus menguduskan Gereja, membimbing Gereja sampai akhir zaman. Kehadiran Roh Kudus juga membuat karya Kristus dalam Gereja meluas, menyentuh semua orang, dan mengatasi batas-batas resmi is dan institusional Gereja di dunia.

Spiritualitas Darah Mulia menekankan peran Bunda Maria dalam dinamika keselamatan dan penebusan ini. Ada keterkaitan erat antara Gereja dan Bunda Maria sebagai tanda pengharapan dan penghiburan bagi Gereja seperti yang ditegaskan oleh Konsili Vatikan II (Lumen Gentium art. 68). Maria telah berperan pada awal Gereja dengan doa-doanya dan sekarang pun terus berperan menyampaikan doa-doa kepada Putranya bagi Gereja agar semua orang dikumpulkan dalam persekutuan Tritunggal. Seperti dahulu Bunda Maria menyertai perjalanan para rasul, Bunda Maria pun menyertai perjalanan Gereja dalam misi evangelisasi.

Spiritualitas Darah Mulia menekankan peran Bunda Maria dalam dinamika keselamatan dan penebusan

Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi art. 82 tentang Maria Bintang Evangelisasi menyatakan demikian:

Inilah keinginan yang dengan suka hati kami serahkan ke tangan-tangan dan hati Hati Bunda Maria Perawan Maria Tak Bernoda. Pada hari ini yang secara khusus dipersembahkan kepadanya dan juga merupakan sepuluh tahun penutupan Konsili Vatikan II. Pada pagi Pentakosta Maria dengan doanya menyaksikan mulainya evangelisasi yang didorong oleh Roh Kudus. Semoga Maria menjadi Bintang Evangelisasi, yang selalu diperbaharui, yang harus dimajukan oleh Gereja dan dilaksanakan olehnya, karena taat kepada perintah Tuhan, lebih-lebih pada masa sekarang ini yang sulit tapi penuh harapan.

Paus Fransiskus dalam Ensikliknya Evangelii Gaudium (nomor 284-288), juga memberikan penekanan kembali pada peran Bunda Maria dalam evangelisasi. Pentakosta adalah awal mula evangelisasi (perutusan Gereja untuk mewartakan Injil). Bunda Maria berada bersama para murid, berdoa mohon kedatangan Roh Kudus. Maka ia berperan dalam mendatangkan Roh Kudus dalam Pentakosta. Dalam Injil Yohanes (Yoh 19:28) Tuhan Yesus menyerahkan Bunda na Maria kepada Yohanes agar menjadi Bunda Gereja, menyertai para murid, yang diutus bersama untuk misi Gereja. Bunda Maria mendampingi para murid menghadapi "Golgota" lain di seluruh dunia. Paus Fransiskus menegaskan bahwa Bunda Maria adalah contoh terbaik untuk perjalanan iman. Karisma yang dicontohkan oleh Bunda Maria dalam evangelisasi adalah bahwa cinta dan kelembutan itu mempunyai kekuatan revolusioner (EG art. 288).

Bagus Laksana, S.J.

seorang imam Jesuit yang aktif dalam dunia pendidikan dan sosial. Ia menjabat sebagai Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta untuk periode 2022-2026. Selain itu, ia juga merupakan dosen dan Dekan Fakultas Teologi USD, mengampu berbagai mata kuliah seperti Kristologi, Teologi Agama-agama, dan Budaya Indonesia