TENTANG KESEDERHANAAN

Dunia tidak mengenal kesederhanaan yang sejati. Kesederhanaan adalah kekayaan sebuah biara; kegembiraan dan kebahagiaan Komunitas. Allah berkenan akan kesederhanaan. Sayangnya, keutamaan ini jarang ditemukan. Kesederhanaan kerap kali digeser oleh kecongkakan dan tipuan. Kedua halangan ini kita temukan di mana-mana. Jalan penjahat mulai dengan kecongkakan, kemudian disusul tipuan. Kecongkakan dan kebohongan menandai dunia dan mereka yang tidak melepaskan diri secara total dari dunia. Orang berbohong tidak hanya dengan mulut, tetapi juga dengan perbuatan. Jenis terakhir ini kerap terjadi; kebohongan dengan mulut dan kebohongan dengan perbuatan, satu banding sepuluh. Hanya ada sedikit orang yang memperlihatkan keadaan lahiriah seperti keadaan dalam batinnya; hanya sedikit yang yakin bahwa perilaku lahir adalah cerminan keadaan jiwanya.

Siapakah yang berani mengingatkan sesamanya pada kekeliruannya dan menunjukkan kesalahannya? Tetapi orang yang bersangkutan tidak hadir, jadi di belakang punggungnya, orang mengolok dengan kebodohan dan kesalahannya. Dan yang keterlaluan, bahwa perilaku semacam itu diselubungi sopan santun. Kita hadapkan tingkah laku munafik ini dengan kelakuan Yesus. Di dalam diri Yesus segalanya kebenaran, semua bernafaskan kesederhanaan. Hanya orang Farisi saja yang dapat jengkel kepada-Nya. Menurut teladan para suci, mengikuti jejak Kristus dimulai dengan berusaha memiliki kesederhanaan Yesus. Semua orang suci ditandai dengan ketulusan, kejujuran, dan kebenaran mereka. Kita harus mengakui kesalahan kita dengan kesederhanaan; kita harus rela diperingatkan oleh orang lain. Sayang bahwa kita tidak mau melihatnya.

Melakukan kesalahan sering kita pandang sebagai sesuatu, yang tak dapat dihindari oleh sifat manusiawi. Tetapi kita berusaha sungguh, untuk menyembunyikan kekurangan- kesalahan-kesalahan kita berlawanan secara langsung dengan kekurangan kita dari mata orang lain. Sikap tidak lurus, mengenai kesederhanaan hati. Sikap ini sekaligus sombong dan bohong. Kitab Suci berkata, "Orang yang jujur akan mempersalahkan diri sendiri lebih dulu" (Ams 17:18). Ini harus diartikan, bahwa dengan mempersalahkan diri sendiri dan dengan keterbukaan hati, kita memulihkan kesalahan yang dibuat. Kebenaran sikap lurus adalah jalan menuju ke keutamaan sejati yaitu: keadilan.

Kelurusan hati ditandai dengan sifat naif. Kita dapat mengatakan bahwa orang-orang suci itu naif, karena mereka seperti kanak-kanak. Seorang anak kita sebut naif, karena terbuka, tidak menyembunyikan sesuatu. Rahmat adikodrati membuat kita murni dan bersih, akibatnya kita menjadi naif menjadi lebih bersifat anak, semakin yang adikodrati itu menguasai kita.

Kesederhanaan mengandaikan kelurusan dan kebenaran. Penyebab yang terdalam bagi kesederhanaan, baik kejujuran maupun kebenaran adalah kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, kesederhanaan bukanlah kebenaran tetapi tipuan.

Orang dengan tepat menyamakan kesempurnaan dengan sebatang pohon. Akar pohon ini adalah keutamaan kerendahan hati; akarlah yang memberikan kekuatan hidup dan kekuatan tumbuh kepada kesempurnaan. Yang memberi cap kepada tingkah laku kita dalam kesederhanaan adalah kerendahan hati. Jadi kita dapat memandang kesederhanaan sebagai tanda pengenal kesempurnaan. Siapa ingin sempurna, harus mengejar kerendahan hati maupun kesederhanaan, kerendahan hati dan kesederhanaan merupakan fondasi yang kokoh bagi kesempurnaan.

Kesederhanaan adalah kekayaan sebuah biara; kegembiraan dan kebahagiaan Komunitas.

Syarat pertama dan sekaligus wujud kesederhanaan ialah bahwa kita hanya mencari Allah saja dan bahwa kita mengacu pada satu hal untuk berkenan pada Allah. Kita hanya harus memperhitungkan kehendak Allah, dan hanya memperhatikan perkenanan-Nya dan bertambahnya kemuliaan-Nya. Kita tak boleh takut selain tidak berkenan kepada Allah; tidak boleh mencari hal lain selain bertambahnya kemuliaan Allah.

Dengan hidup demikian, kita memelihara damai jiwa yang sejati dalam segala bahaya; percaya pada segala peristiwa; berjuang dengan penuh kesadaran kepada tujuan yang telah ditentukan. Kesederhanaan biara kecuali itu menuntut cinta yang besar terhadap Aturan Suci dan kerukunan dengan pimpinan.

Syarat kedua kesederhanaan ialah bahwa kita menerima diri kita sendiri, yaitu bahwa kita tahu apa yang kita inginkan. Ada orang yang mengejar kesempurnaan, yang mengira sendiri, bahwa harus bersusah payah, tetapi tak ada pengertian mengenai damai batin, dan yang tidak tahu apa yang diingini, untuk menerima dirinya. Kehidupan mereka tak pernah bebas dari keraguan, ketakutan, dan kecemasan, sehingga hidup mereka pun penuh kepahitan dan ketidaktenteraman. Mereka juga merupakan siksaan bagi yang lain, yang bergaul dengan mereka. Semoga mereka sampai pada suatu kepastian, bahwa mereka ada di jalan yang benar. Semoga ada seseorang yang mengakhiri kesusahan dan ketidakpastiannya.

Yang dibutuhkan martir keraguan dan tidak tenteram seperti itu, adalah kesederhanaan, tetapi mereka sama sekali tidak memiliki. Andai kata mereka sederhana, mereka akan mengenal hati tenteram; mereka akan membuat kemajuan besar dalam kesempurnaan dengan separuh dari keprihatinannya. Biarlah orang-orang macam itu mulai dengan memberikan diri kepada Allah tanpa syarat; lebih memikirkan Allah daripada diri sendiri, dan lebih percaya kepada pimpinan. Lalu mereka tidak akan lupa, Jadi mereka harus hanya mencari Allah saja, tanpa membuat bahwa mereka harus mengabdi Allah, dan bukan sebaliknya. pertanyaan dengan cemas: sudah berapa jauh mereka ada dalam cinta Allah.

Jadi orang akan menjadi sederhana apabila pencarian Allah memberikan dirinya sama sekali kepada Allah, menanti Dia dalam sebagai tujuan utama dalam kehidupannya, dan juga apabila c segala-galanya. Akibat dari penyerahan ini adalah damai jiwa. anak kepada wibawa tak mungkin ada damai jiwa. Siapa yang Tanpa penyerahan total kepada Allah, tanpa sikap tunduk sebagai memutuskan untuk mengabdi kepada Allah, dan hanya mencari Dia saja, harus sama sekali tunduk kepada bimbingan-Nya, percaya kepada Allah dalam segalanya, dan membawa segalanya kepada Allah. Semua ini merupakan karya kesederhanaan Kristiani.

Kesederhanaan, melihat Allah dalam segalanya; dalam setiap percobaan ia mengakui kehendak Allah; dalam setiap penderitaan Penyelenggaraan Ilahi kebapaan-Nya; dalam segalanya mencari Allah, baik dalam latihan-latihan biasa dalam hidup, misalnya doa, demikian juga dalam hal yang luar biasa misalnya pengorbanan. Sederhana dalam pembicaraan kita sama nilainya dengan kebenaran dan kejujuran dalam pembicaraan kita. Rayuan dan berbuat semu harus kita tolak; kata-kata kita hendaknya ya dan tidak. Kita juga harus risi akan suasana samar-samar. Kita harus berbicara seperti yang kita pikirkan. Berdiam dirilah apabila kamu tahu sesuatu yang tidak perlu diketahui orang lain. Apabila hal itu baik, katakanlah, sehingga semua orang dapat mendengar dan mendapat contoh yang baik. Jangan menyimpan rahasia terhadap pemimpin; jangan bicara berbelit-belit; jangan membiarkan tingkah yang bibirmu yang dibuat-buat dan jangan mengeluarkan kata-kata dari bibirmu yang mendua arti. Percakapan kita seharusnya seperti tingkah laku kita. Kesederhanaan tidak menyukai perbuatan yang mendua, yang satu dalam rahasia dan yang lainnya terbuka. Tanpa kesederhanaan, tingkah laku kita tidak lebih dari suatu etiket, yang ditempel dari luar. Seluruh tingkah laku kita harus merupakan pantulan cermin hidup batinmu, dan ini merupakan buah hasil pergaulan kita dengan Allah. Terhadap semua yang diciptakan Allah harus kita tunjukkan sikap rela, seperti dilakukan Penyelamat selama kehidupan-Nya di dunia. Janganlah menahan apa pun yang dapat kamu berikan kepada setiap ciptaan, dan jangan merampas tanpa sebab, apa yang dimiliki ciptaan.

Dalam setiap perbuatan, baik batin maupun lahir, Allah harus tampak. Apabila kamu harus bergaul dengan dunia, jangan tenggelam di dalamnya. Pergaulanmu dengan dunia harus bersifat melepaskan diri dari padanya, apalagi dengan siapa kamu bergaul, usahakanlah supaya mereka terangkat sampai ketinggian yang kamu capai. Dalam jabatan atau pekerjaanmu, hendaknya tidak ada pekerjaan yang terlalu banyak; harus dengan rela menyambut orang lain. Janganlah merasa murung atau pahit hati, jangan mencolok, dan jangan sombong dalam penampilanmu. Hendaklah selalu riang, terbuka, dan baik hati. Apa yang sudah kauniatkan dan harus kaukerjakan, kerjakanlah dengan berani, dan sesuaikan semua gagasan-gagasan manusiawi dengan kehendak dan perkenan Allah dan dengan persetujuan pemimpin Kesederhanaan merupakan berkat bagi Komunitas.

St. Fransiskus dari Assisi berkata kepada Bruder Juniperus, yang memiliki kesederhanaan yang menakjubkan dan yang nama lainnya berarti "pohon jenewer". "Semoga Tuhan memberi kita segugus pohon jenewer semacam itu." Allah sendiri bersemayam dalam jiwa yang sederhana dan tak dibuat-buat, dan jiwa seperti itu ada dalam Tuhan. Dengan ungkapan ini segalanya telah terucapkan. Berbahagialah jiwa yang mendapat rahmat besar kesederhanaan! Berbahagialah komunitas yang memiliki banyak jiwa sederhana!

Tentang Kesederhanaan dalam Menjalankan Ketaatan

Semua religius, lebih-lebih Para Novis, hendaknya memperhatikan kata-kata Paulus secara serius, "Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela (Flp 2:14-15). Dengan cara yang istimewa, seorang Novis adalah anak Allah. Pada umur berapa pun ia masuk, ia harus selalu memandang dirinya sebagai anak. la harus yakin bahwa ia masih harus belajar banyak; bahwa ia tidak dapat membuat tuntutan apa pun; bahwa ia tidak boleh menyatakan keberatan sedikit pun; tetapi bahwa dalam seluruh perilakunya harus sederhana dan bersikap sebagai anak. Dengan hati sederhana ia harus menerapkan kata-kata St. Petrus pada dirinya: Jadilah seperti anak yang baru lahir, rindu akan air susu rohani yang tak dipalsukan yaitu susu kesempurnaan membiara. Jadi, seorang Novis karena masih anak, membutuhkan bantuan dan bimbingan. Dan ini akan didapat dalam ketaatan. Tanpa syarat ia harus membiarkan dirinya di bawah bimbingan ketaatan. Ia harus mengecualikan kehendak sendiri secara sempurna. Ketaatan akan menuntunnya dengan suatu kepastian yang tak goyah menuju ke tujuan panggilannya yang suci, yaitu kesempurnaan membiara.

Kesederhanaan dalam ketaatan merupakan keadaan jiwa adikodrati, yang dalam pribadi pemimpin tampak Allah. Dalam kehendak pemimpin kamu harus melihat kehendak Allah, dan tanpa ragu-ragu dan tanpa keterangan apa pun memberikan diri kepada perintah-Nya. St. Aloysius berkata, "Setiap pemimpin mewakili Yesus Kristus; dan Yesus adalah kebijaksanaan tak terbatas, , jadi Yesus membuat wakil-Nya terhadap bawahan-Nya, tidak goyah. " Siapa menerima pandangan yang luhur ini, ia memberi meterai kesederhanaan suci pada keutamaan ketaatan. Ketaatan yang sederhana mempunyai dua sifat utama:

* tanpa perhitungan manusiawi;

* tidak mengenal sikap yang dibuat-buat.

1. Ketaatan yang sederhana dan bersikap anak tidak mengenal perhitungan manusiawi.

Pemimpin berkata: Allah sendiri berkata: itulah segalanya. Beban yang diberikan menyenangkan atau tidak, secara kodrat ringan atau berat, semuanya tidak diperhitungkan. Jadi orang jangan memperhatikan pada apa yang diperintahkan, maupun sebab-sebab yang mungkin ada yang membuat pemimpin mungkin memberikan perintahnya; seluruh perhatian kita harus kita tujukan kepada Allah, yang mempermaklumkannya lewat perintah pemimpin. Paus Gregorius Agung memberi keterangan sebagai berikut mengenai ketaatan sederhana: ia tidak menyelidiki pandangan dan alasan-alasan pemimpin, tidak mengkritik apa yang ditugaskan, tetapi menemukan kegembiraan dalam menundukkan pendapatnya sendiri. la berpuas hati dengan yang dibebankan kepadanya. Ketaatan sederhana mengandaikan semangat ketergantungan. Siapa yang tidak membasmi roh mau bebas dengan sekuat t tidak pernah akan membuat kemajuan dalam ketaatan sederhana dan rendah hati.

2. Ketaatan sederhana tidak mengenal sikap yang dibuat-buat.

Suatu cela yang harus dihindari adalah tipuan atau sesuatu yang semu, Sayang sekali bahwa jiwa-jiwa yang suka akan tipuan semacam itu pandai menarik diri secara licik dari ketaatan, sedangkan mereka tetap memelihara keadaan seolah-olah mereka taat. Untuk menghindari ketaatan, atau menghindari tugas yang akan diberikan oleh pemimpin, atau juga suatu pelayanan atau jabatan yang tidak begitu mereka sukai, mereka bersembunyi di balik kerendahan hati semu atau palsu: mereka merasa tidak mampu; mereka takut merugikan Kongregasi maupun komunitas; mereka mau mengerjakan segalanya apa yang diinginkan, dan apa terjadi, bahwa orang membuat dalih tidak enak badan atau yang akan dibebankan kepadanya dengan senang hati. Juga sakit, untuk dapat menarik diri dari ketaatan. Dapat juga terjadi bahwa orang menerima kesibukan atau pelayanan, tetapi menelantarkan kewajiban yang berhubungan dengan itu. Bila mereka diperingatkan akan tingkah lakunya, maka mereka membela diri dengan cara yang bermacam-macam. Pemimpin-pemimpin jangan sampai berpikir, bahwa mereka tidak mempunyai kehendak baik. O tidak, tetapi mereka tidak dapat berbuat lain, karena mereka tidak mampu untuk kesibukan itu.

Setiap orang tahu, bahwa keadaan jiwa seperti itu menyatakan kemiskinan rohani yang besar. Jiwa-jiwa semacam itu tidak sederhana; mereka masih mencari banyak hal di luar Allah; mereka disilaukan oleh nafsu diri dan oleh kepentingan sendiri. Kita berdoa dan memohon kepada Allah, supaya jangan sampai kita runtuh hingga pada kemiskinan rohani seperti itu.

Mgr. Dr. Felix Rudolf Fels

penasehat rohani kongregasi dan rekomendasi dan otoritas gereja setempat yaitu Uskup Roermond, Uskup Denbosch dan Uskup Agung Utrecht