Tentang Keutamaan Kerendahan Hati
Di
antara keutamaan kesusilaan, kerendahan hati mengambil tempat utama. Keutamaan inilah yang mematikan cinta diri kita. Keinginan menyala untuk memiliki keutamaan ini, bagi si Novis merupakan sarana pertolongan yang kuat untuk mencapai tujuan yang diinginkan yaitu mencapai penyangkalan diri. Kerendahan hati adalah tanda kehormatan pahlawan-pahlawan Kristus, anak- anak Allah yang jujur. Dalam menjalankan keutamaan ini Putra Allah sampai pada kekuatan-Nya yang terakhir. Kerendahan hati adalah isi singkatan pengajaran-Nya. Apabila kita harus memiliki semangat Kristus dan mengikuti teladan-Nya yang suci, kita hanya akan berhasil dengan mengikuti kerendahan hati Yesus.
Kerendahan hati tentu saja bukan satu-satunya keutamaan yang diminta dari kita, meskipun demikian keutamaan ini merupakan syarat dasar atau fundamen yang kokoh mengenai kehidupan Kristiani, juga untuk dapat membawa kehidupan ini dengan hasil penuh dan perkembangan yang baik. Jadi kerendahan hati adalah dasar bagi keutamaan yang lain. Kemajuan kita dalam hal yang baik sangat tergantung pada perkembangan yang kita buat dalam kerendahan hati. Menurut St. Thomas kerendahan hati adalah keutamaan yang menempatkan kita pada tempat yang layak bagi kita di hadapan Allah dan ciptaan, dan yang membuat kita mencintai tempat ini, karena merupakan tempat yang sungguh- sungguh milik kita dan layak bagi kita.
Sekaligus, kerendahan hati memupuk di dalam kita suatu kerinduan, bahwa Allah dan ciptaan akan memperlakukan kita sedemikian sehingga kita tahan di tempat itu. Manakah tempat kita itu? Yaitu ketiadaan dan kehinaan. Apa yang layak kita terima, baik dari pihak Allah maupun dari pihak ciptaan, ialah bahwa orang menggeser kita ke latar belakang, bahwa orang tidak memperhitungkan kita. Ini berat bagi kesombongan kita. Kodrat kita, yang demikian suka berada di depan, harus mengalami ini sebagai sesuatu yang mengejutkan. Karena orang ingin menyinarkan sesuatu dan dianggap sesuatu. Namun kita tak boleh memalingkan diri dari kebenaran yang fundamental dan hakiki ini atau melupakannya. Sikap itu akan menyesatkan diri kita sendiri Kita ini sebenarnya bukan apa-apa, jadi sangat layak bahwa Allah memperlakukan kita demikian, sehingga ciptaan lain menggeser kita ke latar belakang dan tidak memperhitungkan kita, dan melupakan kita begitu saja. Apakah kita ini sebelum 20, 40, 50 tahun lalu? Sebutir pasir lebih besar dari pada kita, karena kita ini bukan apa-apa, sama sekali bukan apa-apa. Itulah asal kita yang hakiki. Lagi pula, itulah asal setiap makhluk. Sekarang kita adalah sesuatu, ini suatu kebenaran yang tak dapat dibantah. Allah yang Mahakuasa adalah asal segalanya. Dia Tuhan yang berdaulat, yang kekal, yang memberi kita keberadaan kita. Kita ini karya tangan Allah. Allah adalah Pembuat tubuh kita dengan organ-organnya, dan jiwa kita dengan segala kemampuannya. Karya Allah ini tentu saja sesuatu, bahkan sesuatu yang besar dan menakjubkan. Karena kebijaksanaan Allah dan cinta kasih-Nya, la mempermaklumkan berterima kasih untuk itu kepada Allah. Diri di dalamnya. Semua ini tidak boleh kita ingkari. Kita harus berterima kasih untuk itu kepada Allah.
"Dalam kegelapan yang mendalam, Kita tidak boleh mengeluh, kita harus menyembah rencana-rencana Allah."
Kita pandang diri kita sebagai karya Allah dan sebagai milik- Nya dan kepunyaan-Nya, maka kita tentu saja menjadi sesuatu, sesuatu yang besar. Tempat kita adalah luhur, kita bukan hanya untuk ini, tetapi kita juga kekal. Meskipun demikian kita tetap tinggal pada diri sendiri, seperti apa adanya, yaitu bukan apa- apa. Semua ini benar, sehingga apabila Allah tidak membiarkan keberadaan itu, dalam seketika kita akan terbenam ke keadaan kita sendiri yaitu ketiadaan. Persamaan berikut ini membuat hal yang sudah dibicarakan tadi lebih jelas.
Aku punya batu di tanganku dan tanganku kuulurkan di atas jurang yang dalam. Kalau kubiarkan ada di tanganku, batu itu akan tetap terangkat. Apabila kutarik tanganku, batu itu tanpa ragu pasti jatuh ke dalam jurang. Bahkan tak perlu kita melempar batu itu, cukup dengan menarik tangan saja batu itu akan jatuh. Gambaran memegang batu di atas jurang ini, berlaku bagi Allah terhadap ciptaan-Nya. Aku, bakatku, kemampuanku, kesehatanku, segalanya kuanggap milikku. Itu adalah keadaanku. Aku berada di tangan Allah. Selama Allah mengulurkan tangan-Nya, aku ini sesuatu, bahkan sesuatu yang besar. Apabila Allah menarik tangan-Nya, dengan sendirinya aku jatuh ke dalam jurang, masuk dalam ketiadaan. Sangatlah penting, jika kita diresapi dengan kebenaran ini. Bila kita mengerti dengan baik, kita akan mendapat pengaruhnya pada hidup rohani kita. Bila kita tidak sungguh meresapinya, hidup rohani kita tidak akan berkembang secara layak. Tempat kita, tempat yang layak kita dapat, menurut kebenaran dan keadilan, adalah dilupakan, kegelapan, ketiadaan. Jadi kalau Allah, Tuhan, yang rencana-Nya hanyalah cinta kasih, kebenaran, dan kebijaksanaan, mungkin mengizinkan, bahwa keadaan dilupakan dan tak dikenal menjadi bagian kita, biarlah kita tunduk kepada aturan Ilahi, mencintainya, seperti mencintai kebenaran dan keadilan, dan harus mencintainya. Apabila orang mengabaikan kita, tidak memedulikan kita, mungkin memandang kita sebagai orang-orang tidak berguna, yang dapat digunakan untuk apa pun, dan apabila kita diperlakukan demikian, kita harus mengatakan kepada diri sendiri dengan tulus dan jujur, bahwa mereka itu benar, untuk memperlakukan kita seperti seharusnya. Tanpa ragu-ragu, hal-hal ini merupakan kenyataan yang serius, dan sangat berguna bagi kehidupan rohani kita. Para Novis harus kerap kali memikirkan kenyataan-kenyataan ini, mereka harus memberi makan jiwa dengan kebenaran itu, dan dengan demikian mendidik diri untuk hidup membiara. Sebagai ciptaan saja mereka sudah mempunyai kewajiban meniadakan diri. Kemudian masih ditambahkan bahwa mereka harus mempersiapkan diri supaya pada hari profesi, tanpa syarat sama sekali memberikan diri kepada Allah dalam segala kesederhanaan. Penyerahan diri total ini, mengandaikan adanya keyakinan akan hak-hak Allah yang mutlak terhadap kita, terhadap peniadaan kita dan keadaan kita yang tidak pantas.
Allah adalah segala-galanya. Apakah penyelenggaraan Ilahi akan membiarkan kita berada dalam keadaan dilupakan, dalam kegelapan yang mendalam, bahwa orang lain memperlakukan demikian, maka kita harus mengakui, bahwa Allah berhak penuh untuk berbuat demikian. Kita tidak boleh mengeluh, kita harus menyembah rencana-rencana Allah.