Doa Persiapan

Doa di halaman 134 dari buku Spiritualitas Darah Mulia


Bahan Doa

Yohanes 15: 9 - 12
Yesus mengajak para murid untuk tinggal dalam kasih-Nya, sebagaimana Ia sendiri tinggal dalam kasih Bapa. Kasih ini bukan sekadar perasaan, tetapi diwujudkan melalui ketaatan pada perintah-Nya. Dan perintah utama-Nya adalah: “Kasihilah seorang akan yang lain, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Maknanya sangat dalam: kita dipanggil untuk mengasihi dengan kasih yang aktif, rela berkorban, dan setia—seperti kasih Yesus sendiri. Dalam kasih itulah, Yesus berkata, sukacita-Nya akan menjadi sukacita kita juga—sukacita yang penuh dan sejati.

Ketakutan adalah penasihat yang buruk
Paus Fransiskus juga menyoroti ketakutan sebagai inti dari peristiwa Pentakosta. Para murid yang tadinya lemah dan takut tiba-tiba dipenuhi Roh Kudus dan berbicara dengan keberanian, menyampaikan kabar kebangkitan dalam “bahasa kasih” yang dipahami oleh semua orang. Gereja yang lahir dari peristiwa ini adalah komunitas yang mengejutkan—hidup, penuh semangat, dan membawa harapan. Paus Fransiskus menegaskan menegaskan: Gereja yang sejati adalah gereja yang mampu mengejutkan dunia, karena menghadirkan pesan pengampunan dan kasih yang membangkitkan. Sebaliknya, gereja yang tak mampu menginspirasi atau menggugah adalah tanda bahwa ia kehilangan vitalitas rohaninya.

Sikap sebagai Anak
Dalam biara, tidak banyak ditemukan sikap anak yang sebenarnya. Zaman kita kehilangan sikap ini. Kita lebih suka menjadi orang besar, dan lupa akan apa yang ditunjukkan Yesus yaitu, tentang anak dan sikap sebagai anak.



Rahmat yang dimohon

Menyadari ketakutan yang ada dalam diriku yang dapat memunculkan keberanian, namun bukan keberanian yang lahir dari diri sendiri, tapi dari daya ilahi yang menghidupkan, menyemangati, dan membuat kita berbicara dengan bahasa kasih yang mempersatukan.


Refleksi Doa

1. Apakah aku masih membiarkan ketakutan membungkam keberanian imanku?

2. Dalam hal apa aku dipanggil untuk menjadi saksi yang mengejutkan—bukan karena kehebatanku, tetapi karena kuasa Roh Kudus dalam diriku?

3. Apakah aku memberi ruang bagi Roh Kudus untuk mengubah kelemahanku menjadi keberanian yang membebaskan?

4. Apakah aku sungguh percaya bahwa Roh Kudus mampu mengubah kelemahan dan keterbatasanku menjadi kekuatan untuk mewartakan kasih Kristus?


Sharing Kelompok

Berbagi hidup dan buah-buah rohani membuka jalan bagi Roh Kudus - yang terus berbicara kepada kita - melalui kata-kata orang lain dan bahkan melalui kata-kata yang kita ucapkan. Hal ini juga merupakan latihan membangun ikatan dalam komunitas.

Kuncinya adalah mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa hormat terhadap apa yang diceritakan atau dibagikan. Menerima apa yang dikatakan dengan rasa syukur, tanpa menghakimi, mengomentari atau menilainya. Setiap pengalaman itu berharga.


jika Gereja hidup, ia harus selalu mengejutkan.