Lectio
Dimana-mana, bahkan dalam biara, tidak banyak ditemukan sikap anak yang sebenarnya. Zaman kita kehilangan sikap ini. Kita lebih suka menjadi orang besar, dan lupa akan apa yang ditunjukkan Yesus yaitu, tentang anak dan sikap sebagai anak.
Karena kita tidak mau lagi menjadi kanak-kanak, sebagian besar kegembiraan sejati juga hilang. Nafsu mementingkan diri merampas banyak hal dari kita, tanpa menggantinya dengan sesuatu yang lain. Nafsu mementingkan diri menyebabkan tidak mungkin "menjadi anak". Apa yang dimaksud dengan menjadi anak, dalam roh menurut Injil? Apakah setiap orang dalam arti ini dapat menjadi anak lagi? Ya, tetapi tidak begitu mudah, dan tentu saja tidak dengan tiba-tiba.
Jiwa yang bersikap sebagai anak memiliki jiwanya dalam mata, hatinya, perkataannya, bebas dari segala ketidakjujuran dan tidak kenal kepalsuan. Siapa ingin menjadi anak, harus tahu menyesuaikan diri dengan segala hal dan semua orang; harus meninggalkan lingkaran sempit pikirannya di mana cinta diri mengunci kita di dalamnya; harus menunjukkan perhatian dan minat pada apa yang diminati orang lain, jadi tidak boleh terus- menerus sibuk dengan diri sendiri dan kepentingan diri.
Dalam satu kata: kita harus mengikuti jejak-Nya, mengikuti Dia yang tidak datang untuk dilayani tetapi untuk melayani. Kita harus berbagi suka dan duka dengan orang lain; memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. Secara serius mengejar cita-cita luhur ini, menjadi anak, seperti yang diminta oleh Penyelamat dari kita. Karena ternyata hidup Kristiani apalagi hidup religius mengandaikan suatu persekutuan.
sikap sebagai anak merupakan suasana hati jujur
Setiap Suster harus mengerti dengan sungguh-sungguh, bahwa ia harus menjadi anggota yang hidup dan sehat dari suatu Komunitas dan Kongregasi, dan bahwa ia harus menunjukkan dengan perbuatan. Maka dari itu, setiap Suster harus sanggup mengorbankan kepentingan diri bagi kepentingan Komunitas atau Kongregasi. Ia akan memberikan kepada kongregasi apa yang dapat ia berikan, tanpa takut akan suatu korban pun. Dan jangan mengira, bahwa ia telah berbuat sesuatu yang istimewa, sesuatu yang di luar lingkup kewajibannya.
Bahwa hubungan kita dengan sesama manusia mempunyai arti yang khusus, ternyata pada apa yang akan terjadi pada pengadilan terakhir, "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka la akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan la akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan la akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa- Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang- orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku" (Mat 25:31-45).
Siapa yang tidak menjalankan cinta sesama dengan perbuatan; siapa yang tak mempunyai belas kasihan kepada orang lain, siapa yang tidak mempraktikkan kekristenannya, menurut kata-kata Kristus sendiri, bukan seorang Kristiani dan tidak boleh dianggap demikian.
Akhirnya kita harus memberikan tekanan berikut ini, suasana hati Kristiani, dan sikap sebagai anak merupakan suasana hati jujur. Perlakuan ramah yang keluar dari hati, keramahan dan keakraban yang bersih dari prasangka, kegembiraan yang murni, merupakan tanda-tanda suasana hati yang sungguh Kristiani dan bersikap anak. Sikap serius yang tepat dalam pengabdian kepada Allah, selalu mencetuskan suasana hati yang riang pada manusia. Orang seperti itu menjalani hidupnya dengan gembira. Janganlah kita lupa, bahwa kegembiraan yang benar dan jujur tidak ditemukan di luar kita, tetapi hanya di dalam kita. Demikian juga sebab ketidakpuasan yang mendalam harus dicari dalam hati sendiri. Bila dalam batin kita segalanya tertib dan teratur, di sana terdapat damai dan kegembiraan. Tidak perlu lagi menunjukkan, bahwa cinta kasih sesama yang demikian erat berhubungan dengan kekristenan yang benar, menimbulkan kesenangan dan kegembiraan sejati.
Sejumlah besar orang suci dalam Gereja Allah menjadi bukti yang nyata, bahwa kesalehan dan kegembiraan sejati selalu berjalan bersama. St. Thomas Aquino berkata, "Kegembiraan yang istimewa dan tak tergoyahkan menjadi tanda bagi mereka yang mencintai Allah dengan cara sempurna" (2a, 2ae Qu. 28).
Jadi kerajaan Allah bukan hanya olah tapa, tetapi tapa yang menuntut keseriusan suci, kebenaran, kedamaian, kegembiraan di dalam Roh kudus. Yang mengabdi dunia tertekan oleh beban yang berat, yang diletakkan pada pengikut-pengikut-Nya: Siapa mengabdi Allah dengan kerajinan bertekun, akan menempuh jalan Tuhan dengan kegembiraan yang tak terkatakan dan akan mengalami bahwa mengabdi Allah adalah memerintah. Kegembiraan hidup akan mendampinginya ke jalan menuju Allah; rasa jemu dan muak terhadap kehidupan tidak dikenal oleh murid- murid Kristus yang bersemangat. Mereka tidak merasakan beban, tetapi mencintai beban.