LECTIO

Manusia itu lemah: rencana-rencananya biasanya goyah, dan perbuatannya tidak tetap. Apabila tingkah laku lahirnya sudah memperlihatkan gambaran kelemahan, pasti qet kehidupan batinnya melebihi itu. Bagaimana lemahnya manusia, akan ternyata dengan jelas pada fakta bahwa ia sulit disadarkan tentang kelemahannya. Lebih sulit lagi, untuk menunjukkan sebab kelemahannya dan menunjukkan sarana penyembuhannya. Kita selalu mencari penyebab kelemahan kita di luar kata, pada orang lain dalam lingkungan kita. Menurut kita, keadaan-keadaan luarlah yang bersalah, yang membuat kita gagal. Waspadalah akan prasangka semacam itu, hal itu menjadi penyebab hidup kita lewat tanpa membuahkan buah matang, kita mencari dan meraba, membuat rencana dan niat, tetapi segalanya tanpa hasil.

2. Kelemahan moral dan ketakutan akan kerja keras dan usaha keras menandai kekafiran secara khusus. Sayang bahwa banyak orang Kristiani juga kejangkitan roh ini. Lebih-lebih orang agak terkejut untuk pekerjaan-batin yaitu: pembentukan roh. Banyak dibuat perundingan-perundingan, tetapi sedikit dilakukan sesuatu, teori-teori indah dipermaklumkan, tetapi tidak diikuti perbuatan. Hal semacam ini banyak terdapat di masyarakat. Hal yang sama kita temukan dalam kehidupan seseorang yang tinggal sendirian. Apa yang terjadi biasanya pada suatu rencana besar-besaran? Siapa yang salah? Kelalaian manusiawi. Kelalaian ini, yang kerap kali diperlunak, menjadi penyebab kegagalan dalam hidup, dalam masyarakat, bahkan pada bangsa-bangsa.

3. Jadi sangatlah penting untuk mengatasi ketakutan akan usaha keras, akan kerja keras, dan kelemahan moral. Kecuali itu hendaknya diketahui bahwa tidak setiap kesibukan itu merupakan kerja keras. Sibuk karena kesukaan, karena tingkah dan polah, bukanlah kerja keras. Kesibukan yang mempunyai tujuan menghabiskan waktu, tidak bisa disebut kerja keras. Hanya mereka yang bekerja keras dapat disebut bekerja. Bekerja berarti: sibuk karena kesadaran akan kewajiban, dengan disertai penyangkalan diri dan untuk memperoleh faedah. Dengan bekerja seperti itu, manusia memenuhi harga dirinya sebagai makhluk yang berakal budi, lebih-lebih harga dirinya sebagai anak Allah. Siapa ingin menempati titik tolak moral yang tinggi, harus memberikan arahan yang baik kepada kehendak; ia tak boleh ragu untuk berjuang melawan kesalahan-kesalahan sendiri. Tanpa ampun, ia harus melawan sikap setengah-setengah, dan tidak pernah menuruti kemalasan dan kelembekan. Apakah manusia itu kuat atau lemah, tidak tergantung dari hal-hal di luar hidupnya, tetapi dari keadaan batinnya. Kita sebenarnya tahu sungguh-sungguh mengenai hal ini, kita juga kerap kali menyatakan ini kepada orang lain. Dalam keadaan terjepit dan cinta diri kita terpaksa harus membuat pengorbanan, kita berbuat seolah-olah kita tidak tahu. Kapankah kita akan melihat bahwa cinta diri adalah penyebab yang sebenarnya dari kesusahan moral!

Tanpa cinta diri kehidupan rohani kita akan berkembang dengan cara yang sangat sempurna. Satu-satunya yang harus kita kerjakan, adalah membasmi cinta diri. Daripada mencari diri sendiri kita harus mencari Allah. Nafsu untuk mencari diri ini berasal dari kecongkakan. Kecongkakan memang merusak segalanya, dan tidak mungkin membentuk karakter-karakter yang baik. Kecongkakan menyebabkan runtuhnya Humoral seorang pribadi maupun seluruh bangsa. Janganlah kita menyesatkan diri sendiri. Kita tidak usah memelihara falsafah dengan kata-kata indah; pandangan hidup kita nyhendaknya berasal dari perbuatan yang baik dan luhur.

4. Pendidikan Kristiani yang benar berupa menguasai roh dengan perbuatan baik. Siapa yang memandang agama berasal dari Allah, dan membawa kepada Allah, sebagai suatu sistem falsafah, yang hanya menyibukkan akal budi, sedangkan kehendak tidak mendapat bagiannya, berada dalam kekeliruan. Bahkan kebijaksanaan manusiawi tidak dapat dikuasai tanpa kerja sama dengan kehendak yang berasal dari akal budi. Apalagi untuk mendapatkan kebijaksanaan Ilahi tanpa kerja sama dengan kehendak. Latihan praktis harus mengikuti pandangan teoritis. Pendidikan Kristiani dan pembentukan rohani bersandar atas dasar asas ini. Sambil berbuat, orang belajar. Kelambanan rohani kita menjadi halangan secara luar biasa pada pembentukan rohani kita.

5. Kehidupan yang gagal biasanya akibat pendidikan yang keliru. Lebih kerap lagi, kehidupan yang gagal terjadi karena orang tidak menyelesaikan dengan baik pendidikan yang dimulai. Gagasan sesat: bahwa pendidikan manusia lebih-lebih adalah pembentukan kehendak dianggap selesai, juga menjadi penyebab kehidupan yang gagal. Siapakah yang sempurna dalam segala hal, sehingga tak ada satu perbaikan pun. Menjadi manusia yang baik, apalagi menjadi orang Kristiani yang layak, dan seorang biarawati yang teguh, memang tidak mudah. Ini merupakan suatu pekerjaan yang harus dimulai lagi setiap hari. Untuk itu kita butuh kekuatan kehendak, kemampuan bertekun, dan keberanian besar.

Diandaikan juga kesanggupan untuk pengorbanan, banyak ini menderita, dan bekerja dengan serius. Jadi kita bukan hanya gasyberbuat karena kebiasaan atau hanya karena tidak dapat menghindarinya. Kita harus berbuat karena kesadaran akan kewajiban, dengan memperhatikan tujuan, yang disodorkan oleh panggilan kita. Perbuatan kita harus merupakan suatu pengabdian, di mana kita mengesampingkan kepentingan diri. Maka dari itu harus diiringi dengan penyangkalan kehendak kita sendiri. Seluruh kepribadian kita berada dalam pengabdian kepada Allah, dan dengan itu dalam pengabdian kepada Kongregasi, di mana memanggil kita. Bagi manusia merupakan suatu perasaan yang menenteramkan, bahwa ia dapat memberi kesaksian dengan benar menjadi pekerjaan peserta Allah; boleh berjuang dan bekerja keras bersama Allah dan bagi Allah. Nah, kesaksian seperti itu setiap orang boleh memberikan, orang yang secara serius berusaha demi kesempurnaan sendiri. Orang seperti itu adalah pembuat kehormatannya sendiri yang sungguh-sungguh, jadi pembuat kebahagiaannya sendiri, tetapi juga menjadi wakil Allah, sedangkan kemuliaan dan kehormatan Allah diserahkan kepadanya.

Janganlah kita menyesatkan diri sendiri.

6. Sangat kerap terjadi, bahwa kelemahan jasmani atau penyakit dipakai sebagai alasan, untuk menarik diri dari kerja keras dan sukar. Sebenarnya alasan yang lebih mendalam terletak pada kelemahan moral, yang hanya dapat diatasi oleh kekuatan kehendak. Cacat kita yang umum dan utama adalah kehendak yang lembek, jadi kekurangan pembentukan kehendak, lebih-lebih zaman sekarang orang tertekan karena penderitaan jiwa. Ia menderita dalam batin karena menjadi bulan- bulanan angan-angannya; dengan berpikir-pikir tentang apa saja; dengan membiarkan kemurungan; dengan mengikuti tingkah dan polahnya sendiri. Penderitaan yang disebut ini merupakan akibat dari kehendak yang lembek dan sakit, yang membiarkan dikuasai oleh kemurungan, keacuhan, kurang semangat, ketakutan, kebimbangan, kegoyahan, dan pikiran su kacau. Kehendak telah mengorbankan kekuatannya, maka dari itu kekurangan kemenangan diri dan pengendalian diri.

7. Siapa yang menghormati diri sendiri, siapa yang ingin membawa kekuatan moralnya ke suatu tingkat lebih tinggi, harus melakukan matiraga. Sangat disesalkan, bahwa banyak orang yang enggan akan hal yang sangat dibutuhkan ini. Penyangkalan diri, matiraga, olah tapa, merupakan kata-kata keras bagi kebanyakan orang, mereka lebih suka tidak mendengarnya, meskipun mereka harus melakukannya secara mutlak apabila ingin menyelamatkan jiwanya.

Mgr. Dr. Felix Rudolf Fels

penasehat rohani kongregasi dan rekomendasi dan otoritas gereja setempat yaitu Uskup Roermond, Uskup Denbosch dan Uskup Agung Utrecht