Doa Persiapan

Doa di halaman 134 dari buku Spiritualitas Darah Mulia


Bahan Doa

Lukas 15:1-7
Yesus menggambarkan seorang gembala yang memiliki seratus ekor domba, dan ketika satu ekor hilang, ia meninggalkan yang sembilan puluh sembilan untuk mencari yang satu itu sampai ditemukan. Setelah menemukannya, ia bersukacita dan mengundang teman-temannya untuk merayakan. Yesus menutup perumpamaan ini dengan mengatakan bahwa di surga akan ada sukacita besar karena satu orang berdosa yang bertobat, melebihi sukacita atas sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.

Mengapa Tuhan BERSUKACITA?
Tuhan bersukacita bukan karena kesempurnaan kita, tetapi karena kasih-Nya yang tak terbatas kepada kita—terutama saat kita kembali kepada-Nya. Ia menekankan bahwa sukacita Tuhan muncul ketika manusia membuka hati, bertobat, dan membiarkan diri dipeluk oleh belas kasih-Nya. Seperti dalam perumpamaan domba yang hilang (Lukas 15), Tuhan tidak bersukacita karena kita tidak pernah jatuh, tetapi karena kita memilih untuk bangkit dan kembali. Dalam kata-kata Paus, “Tuhan bersukacita karena Ia adalah Bapa yang penuh belas kasih, bukan hakim yang menanti untuk menghukum.” Makna terdalamnya adalah ini: sukacita Tuhan adalah sukacita karena relasi—karena kita adalah anak-anak-Nya yang dikasihi, dan setiap langkah kecil menuju-Nya membawa sukacita besar di surga.

Kesederhanaan
Para suster ADM memilih untuk hidup sederhana agar tidak terikat pada hal-hal duniawi, dan supaya hati mereka lebih bebas untuk mencintai dan melayani. Kesederhanaan ini tampak dalam cara mereka berpakaian, berbicara, dan menggunakan sumber daya secara bijak. Kesederhanaan juga berarti mendekatkan diri pada mereka yang miskin dan menderita, bukan dari posisi “di atas”, tetapi sebagai saudara sejalan. Mereka hadir bukan untuk menggurui, tapi untuk berjalan bersama.



Rahmat yang dimohon

Memahami diriku agar mampu menemukan sukacita dalam hal-hal sederhana: senyum orang lain, waktu hening, angin sepoi, atau bahkan dalam pekerjaan yang biasa-biasa saja.


Refleksi Doa

1. Kapan terakhir kali aku menangis bukan karena diriku sendiri, tetapi karena penderitaan orang lain yang terluka dan terlupakan?

2. Apakah pintu hatiku hari ini terbuka bagi penghiburan Tuhan, ataukah aku masih menahannya karena rasa kecewa, luka, atau ketakutan yang belum kurelakan?

3. Apakah aku benar-benar berjalan menuju harapan yang dijanjikan Tuhan—atau aku hanya berdiri sambil menunggu sesuatu terjadi tanpa langkah nyata?

4.


Sharing Kelompok

Berbagi hidup dan buah-buah rohani membuka jalan bagi Roh Kudus - yang terus berbicara kepada kita - melalui kata-kata orang lain dan bahkan melalui kata-kata yang kita ucapkan. Hal ini juga merupakan latihan membangun ikatan dalam komunitas.

Kuncinya adalah mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa hormat terhadap apa yang diceritakan atau dibagikan. Menerima apa yang dikatakan dengan rasa syukur, tanpa menghakimi, mengomentari atau menilainya. Setiap pengalaman itu berharga.


Tuhan bersukacita karena Ia adalah Bapa yang penuh belas kasih, bukan hakim yang menanti untuk menghukum.